Aku, selalu dan selamanya mencintai kakakku, dari dulu semenjak aku masih kecil bahkan beranjak remaja, kakakku tak lelah menopangku. hmm,mungkin memang benar aku telah ketergantungan dengan sosok kakakku,sosok yang pemberani,walau perilaku'y kelaki²an,tapii ituLah kakakku,kakak yang sangat ku sayanGi.
Aku suka kakakk,itu mutlak dan tak terbantahkan, bahkan jika ibu sering membanding-bandingkan aku dengannya, aku tak membantah karena memang benar adanya, dan tak kan berkurang cintaku kepada kakakku yang telah tiada itu. Mungkin benar adanya jika sayangku kepada kakakku lebih besar daripada kepada orang tuaku. Benar sekali karena apa kau tahu ?? dulu, sejak kecil, dialah yang merawatku, yang membelaku dari kejahilan kakak laki-lakiku, dari kemarahan bapakku ibuku, dan yang selalu mendampingiku ketika aku sedang sakit ataupun tidak. Bukti lagi bahwa rasa sayangku kepada kakakku lebih besar daripada orang tuaku yaitu ketika bapakku meninggal dunia hampir 2tahun yang lalu. hmm, sedih :( tapi kenapa hatiku masih bisa berdiri dan cepat kembali?? Baru setelah kakakku tiada aku menyadari kenapa hal itu terjadi, karena kakakku berdiri di belakangku. Karena masih ada kakakku,dialah yang pelan-pelan memberikan pengertian dan kekuatan padaku saat bapakku tiada. Dia yang mengajarkanku untuk selalu berbakti pada orang tua, mengingatkanku betapa pengorbanan ibu melahirkan aku dan jika tak ada bapak maka aku pun tak kan ada di dunia ini.
Namun, ketika berita meninggalnya kakakku malam itu, hatiku sangat pilu, sedih menghampiriku dan menikamku lalu melemparkan aku ke lubang kekosongan. Dalam hatiku, aku harus tegar, siapa lagi yang membantu ibu kecuali aku dan kakak laki²ku. Yang kupikirkan saat itu adalah keponakanku yang masih kecil,7 tahun. Setelah jasad kakakku tiba rumah,tangisanku tak tertahankan lagi. Dan setelah itu, entah mengapa meski air mata telah tak jatuh di pipi, namun kurasakan ada lubang yang sangat besar dalam hatiku. Besar sekali, hingga tiap tidur selalu mengusikku dan membuat air mataku jatuh. Dan, kusadar pula saat ini aku tak punya penopang, karena penopangku telah tiada.
Beberapa waktu kulewati dan aku tersadar bahwa penopang sebenarnya dan pemegang segalanya adalah pemilik alam semesta dan tiap-tiap nyawa ialah Allah SWT. Dan aku mulai belajar agar tak larut di dalam kesedian yang pekat, karena akan memberatkan kakakku saja di kuburnya. Yang bisa kulakukan saat ini hingga nanti adalah selalu mendoakannya agar dapat ampunan dari Alloh SWT, dan amal ibadahnya diterima. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar